Semangat Hasilkan Susu Terbaik Melalui Riset Program Farmer2Farmer

Sabtu, 06 Juli 2019 - 11:02 WIB
loading...
Semangat Hasilkan Susu Terbaik Melalui Riset Program Farmer2Farmer
Semangat Hasilkan Susu Terbaik Melalui Riset Program Farmer2Farmer
AMSTERDAM - Frisian Flag Indonesia lewat program Farmer2Farmer kembali tahun ini, mengirim empat peternak sapi untuk mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi peternakan sapi perah di Belanda, belajar tentang good dairy farming practice (GDFP) dan mendapatkan pelatihan intensif dari peternak sukses Belanda.

“Dengan membawa para peternak ke Belanda dan mendapat ilmu peternakan lebih baik, mengekspos mereka ke budaya dan pengalaman di luar negeri, diharapkan bahwa mereka akan kembali dengan perspektif baru yang segar, termotivasi dan pendekatan baru untuk menghadapi berbagai tantangan dan meningkatkan bisnis mereka. Inisiatif ini bertujuan untuk menginspirasi dan mendorong motivasi tinggi di antara petani lokal untuk menjadi yang terbaik. Lewat program Farmer2Farmer setidaknya ada tiga aspek yang akan dipelajari, yaitu kesejahteraan peternak, pengolahan bahan baku industri pengolahan susu yang baik, sehingga dapat mendukung target dari produksi susu segar di Indonesia terpenuhi sesuai yang dicanangkan pemerintah,” ujar Fetti Fadliah, PR Manager Frisian Flag Indonesia dalam keterangan persnya di Jakarta Sabtu (6/7/2019).

Saat ini, jumlah populasi sapi laktasi di Indonesia ada di angka sekitar 267 ribu ekor dari total sapi perah 533 ribu ekor. Jumlah ini juga cenderung menurun setiap tahun jika dibandingkan dengan kenaikan populasi. Di lain sisi, tingkat konsumsi susu nasional juga masih rendah. Kebutuhan susu nasional ada di angka 4,5 juta ton, tapi produksi lokal baru mencapai 864,6 ribu ton atau sekitar 19 persen dari kebutuhan nasional.

Produksi susu dominan terdapat di Pulau Jawa dengan kontribusi susu dari Pulau Jawa 98,34% sementara Luar Jawa 1,66%. Produksi susu 5 tahun terakhir menurun rata-rata 1,03% per tahun atau rata-rata sebesar 847,09 ribu ton. Periode 2017 hingga 2020, Indonesia diperkirakan akan mengalami defisit susu sebesar 71 ribu hingga 103 ribu ton. Konsumsi susu nasional sebesar 5 persen juga tidak sejalan dengan peningkatan produksi SSDN yang baru mencapai 2 persen.

Selain konsumsi susu masyarakat yang rendah, terdapat keengganan di tingkat Industri Pengolah Susu (IPS) untuk membeli Susu Segar Dalam Negeri (SSDN). Untuk mencukupi kebutuhan susu nasional yang rendah pun, industri peternakan sapi perah belum mampu memenuhinya. Persoalannya sangat beragam mulai dari produktivitas susu sapi rendah, pemilihan sapi perah di bawah skala ekonomis, serta neraca susu nasional yang tidak berimbang.

Selama dua minggu, para peternak ini dibekali berbagai pengetahuan mengenai tatalaksana peternakan sapi perah. GDFP adalah tatalaksana peternakan sapi perah yang meliputi segala aktivitas teknis dan ekonomis dalam hal pemeliharaan sehari-hari seperti reproduksi, cara dan sistem pemberian pakan, sanitasi, serta pencegahan dan pengobatan penyakit. Peternak diajarkan bahwa keberhasilan produksi susu tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan peternak dalam mengelola usaha peternakan sapi perah. Hal ini berarti semakin tinggi penerapan GDFP, maka semakin tinggi pula tingkat pendapatan peternak.



Salah satu tantangan lain dalam peternakan sapi perah, adalah regenerasi, terjadi di Indonesia dan global. Minne Holtrop, peternak Belanda, yang merupakan generasi ke8 peternak sapi perah mengatakan dia berhasil menularkan profesinya ke anaknya untuk meneruskan usaha sapi perah dengan berpegang pada satu kunci, “Menanamkan passion atau kecintaan serta senantiasa memberikan motivasi positif kepada anak untuk terus menghadapi berbagai tantangan. Ada banyak perkembangan dan tantangan di setiap generasi. Namun teknologi juga terus berkembang,” ujar Minne

“Banyak perubahan yang saya alami setelah mengikuti F2F. Hal-hal yang sebelumnya bisa saya anggap sederhana dan tidak signifikan seperti pemberian pakan atau tempat tidur para sapi ternyata berpengaruh besar terhadap produksi susu. Ada banyak ilmu yang saya dapatkan lewat program ini termasuk dalam regenerasi peternak,” ujar Mitha.

Ia mengakui bahwa anaknya yang berumur 15 tahun sudah tertarik untuk melanjutkan usaha peternakan ini. Menurutnya, pendapatan yang didapat dari peternakan bisa mencukupi kebutuhan hidup.
halaman ke-1
preload video
KOMENTAR ANDA