ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia

Minggu, 14 Juli 2019 - 11:14 WIB
A A A
“Saya berharap kerjasama ini bisa segera dilaksanakan dan hasilnya juga bisa segera diaplikasikan,” pungkas dosen ITS itu. PT KPAM tahun lalu telah mendapat lisensi manufacturing mengenai floating concrete pontoon (dermaga beton apung) oleh SF Marina dari Swedia.

SF Marina merupakan perusahaan yang bergerak dibidang beton apung dan telah berusia lebih dari 100 tahun. “SF Marina berdiri sejak 1918 dan dia pionir dibidang floating pontoon. Teknologi mereka sudah lama digunakan di pelabuhan, marina, sandar kapal, tempat mengisi bahan bakar atau jembatan apung,” kata Ir Budi S Prasetyo, Managing Director PT KPAM.

KPAM melakukan riset dengan ITS guna mengeksplore teknologi yang akan didapat dari SF Marina. Budi mengharapkan ITS dapat mengembangkan teknologi SF Marina melebihi hasil yang telah dicapai.

“Kami tidak mau menelan mentahmentah teknologi dari luar, oleh karena itu kami bersama ITS akan berupaya untuk melakukan penelitian lanjutan dan diharapkan akan muncul inovasi-inovasi baru di masa mendatang dan bisa diaplikasikan di perairan Indonesia” tambahnya.

Sebenarnya, Budi sudah mengenal SF Marina sejak 4 tahun lalu. Saat itu, SF Marina ingin menjual barangnya ke Indonesia melalui KPAM, namun hal ini di tolak oleh Budi karena tidak memberikan nilai lebih bagi Indonesia.

Oleh karena itu, tahun lalu KPAM berhasil mendapatkan lisensi melalui beberapa kali negosiasi. “Mereka ingin saya jual barang mereka disini, import dari sana ke sini, saya bilang tidak mau karena nggak ada nilai lebih buat kita.

Saya ingin mereka memberikan lisence ke kita agar bisa produksi disini, setelah itu ingin saya tingkatkan dengan ITS,” kata Budi. Budi menjelaskan bahwa pembuatan dermaga beton apung tidak butuh waktu lama.

SF Marina memiliki konstruksi dermaga beton apung yang sudah dibuat per modul, dengan disesuaikan berdasarkan kebutuhan. “Buatnya tidak lama karena bentuknya kan modulmodul, satu modul itu tergantung lebar dan panjangnya, termasuk kebutuhannya.

Pekerjaannya sekitar 2 bulan permodul, paling lama 4 bulan, tergantung modulnya juga,” ungkap Budi. Untuk membuat beton apung di suatu wilayah, dibutuhkan adanya batching plant. Batching plant adalah lokasi khusus untuk pembuatan beton readymix, yang memiliki beberapa komponen untuk mencampur material-material beton.

Dengan kata lain, itu adalah pabrik beton dimana terjadi pencampuran dan pengadukan beton yang akan digunakan untuk kepentingan konstruksi berbagai proyek, baik itu landasan bandara, jalan raya, maupun perumahan.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1414 seconds (11.97#12.26)