1.000 Kali Kuat dari Petir Biasa, Semoga Superbolt Tak Pernah ke Indonesia

loading...
1.000 Kali Kuat dari Petir Biasa, Semoga Superbolt Tak Pernah ke Indonesia
Setelah mengevaluasi data selama bertahun-tahun, para ilmuwan mengonfirmasi bahwa superbolt ini dapat menghasilkan setidaknya 100 gigawatt daya. Foto/Live Science/Shutterstock
JAKARTA - Superbolt , kilatan petir yang 1.000 kali lebih kuat dari rata-rata, ternyata benar-benar ada. Dua studi baru mengonfirmasi kilat superkuat ini. (Baca juga: Dua Petani di Gowa Tersambar Petir, Satu Meninggal Dunia )

Sebuah studi penting menciptakan istilah tersebut pada tahun 1970-an, tapi pada tahun-tahun berikutnya, para ahli mempertanyakan apakah superbolt benar-benar lebih terang daripada kebanyakan petir lainnya. Atau jika mereka tampak lebih terang tergantung pada sudut pengamatan satelit.

Baru-baru ini, setelah mengevaluasi data selama bertahun-tahun, para ilmuwan mengonfirmasi bahwa baut ultrabright ini dapat menghasilkan setidaknya 100 gigawatt daya (sebagai perbandingan, daya yang dihasilkan oleh semua panel surya dan turbin angin di Amerika Serikat pada tahun 2018 adalah sekitar 163 gigawatt, data Departemen Energi AS).

Para peneliti juga menemukan bahwa seperti superhero buku komik, superbolt memiliki cerita asal yang tidak biasa. Petir terbentuk ketika muatan listrik di awan dan di tanah berinteraksi, dan di sebagian besar peristiwa ini, awan bermuatan negatif. Namun, superbolt terbentuk selama interaksi awan-ke-tanah yang langka di mana awan bermuatan positif, para ilmuwan melaporkan.



Superbolt pertama kali dideskripsikan sebagai kilatan petir yang "100 kali lebih kuat daripada kilatan petir biasa". Ini berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan pada 1977 dalam Journal of Geophysical Research.

Data petir untuk studi itu berasal dari pengamatan oleh satelit Vela, yang diluncurkan pada 1969 untuk mendeteksi ledakan nuklir dari luar angkasa. NASA menyebut satelit ini beroperasi hingga tahun 1979.

Instrumen Vela mencatat ribuan sambaran petir per tahun, termasuk sambaran petir yang melanda di seluruh dunia. "Yang paling sering terjadi di Samudera Pasifik Utara," sebut BN Turman, seorang peneliti di Pusat Aplikasi Teknis Angkatan Udara di Pangkalan Angkatan Udara Patrick di Florida, AS.



The New York Times melaporkan, satu ledakan superbolt di dekat Afrika Selatan pada 1979 sangat kuat sehingga dianggap sebagai ledakan bom nuklir. Superbolt lain yang melanda Newfoundland terjadi pada 1978 meninggalkan "kerusakan satu mil" setelah sambaran kilat terjadi.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR ANDA
Top