Penjelasan Puting Beliung karena Badai Bow Echo di Bandung

Rabu, 31 Maret 2021 - 13:41 WIB
loading...
Penjelasan Puting Beliung karena Badai Bow Echo di Bandung
Ilustrasi cuaca ekstrem. FOTO/ Ist
BANDUNG - Pada Minggu (28/3/2020) sore, terjadi puting beliung dahsyat di Desa Mekarsaluyu, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Angin tersebut merusak sejumlah rumah dan pohon yang dilintasinya.

Melihat fenomena tersebut, Pusat Sains dan Teknologi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN), menjelaskan bahwa berdasarkan data pertumbuhan awan dari hasil satelit Himawari-8 DSS Sadewa, menunjukkan sistem konveksi skala lokal telah terbentuk di sebelah barat Cimenyan sejak pukul 14.00 WIB.

Sistem ini kemudian tumbuh dengan cepat dari pukul 15.00 WIB - 16.00 WIB. Pertumbuhan awan konvektif yang terjadi dengan cepat dan meluas di sekitar Cimenyan ini disebabkan oleh pembentukan konvergensi angin permukaan.

"Dalam hal ini, pembentukan awan Cumolonimbus (CB) yang sangat cepat dapat memicu cuaca ekstrem, seperti badai guruh, angin puting beliung, maupun water spout," kata lembaga tersebut, dilansir Rabu (31/3/2021).

Berdasarkat data radar SANTANU-LAPAN, konvergensi lokal di sekitar Cimenyan tersebut telah membangkitkan badai yang telah ditandai dengan pembentukan garis konvektif. Pada radar tersebut, terlihat kemunculan V-Shape rainband yang mengindikasikan tarikan udara dari arah barat laut dan barat daya yang bergerak menuju Cimenyan, pada pukul 15.56 WIB - 16.00 WIB.



Bentuk V-Shape dalam pantauan radar yang dikenal dengak istilah badai Bow Echo mencapai proses kematangannya hingga pukul 16.00 WIB lalu pecah dan terdisipasi. Saat terdisipasi inilah puting beliung dapat terbentuk.

Aktivitas awan CB yang intensif di suatu tempat perlu diwaspadai, karena keadaan tersebut berpotensi membangkitkan puting beliung. "Hingga saat ini, puting beliung masih sangat sulit diprediksi, karena kejadian yang sangat lokal dengan durasi yang sangat singkat," jelas LAPAN.
(wbs)
preload video
KOMENTAR ANDA