WHO Sebut Warga Asia Tenggara Paling Beresiko Jam kerja Panjang

Selasa, 18 Mei 2021 - 07:08 WIB
loading...
Laporan tersebut mengatakan jam kerja yang panjang diperkirakan bertanggung jawab atas sekitar sepertiga dari semua penyakit yang terkait dengan pekerjaan, menjadikannya beban penyakit akibat kerja terbesar.

BACA JUGA: Google Earth Buramkan Kondisi Kota Gaza Usai Digempur Israel

Para peneliti mengatakan bahwa ada dua cara jam kerja yang lebih lama menyebabkan hasil kesehatan yang buruk: pertama melalui respons fisiologis langsung terhadap stres, dan kedua karena jam kerja yang lebih lama berarti pekerja lebih cenderung mengadopsi perilaku yang membahayakan kesehatan seperti penggunaan tembakau dan alkohol, kurang tidur. dan olahraga, dan diet yang tidak sehat.

Jumlah orang yang bekerja berjam-jam meningkat sebelum pandemi melanda, menurut WHO , dan mencapai sekitar 9% dari total populasi global.

Di Inggris, Kantor Statistik Nasional (ONS) menemukan bahwa orang yang bekerja dari rumah selama pandemi menghabiskan rata-rata enam jam lembur yang tidak dibayar dalam seminggu. Orang yang tidak bekerja dari rumah bekerja lembur rata-rata 3,6 jam seminggu, kata ONS.

WHO menyarankan agar pemberi kerja sekarang mempertimbangkan hal ini saat menilai risiko kesehatan kerja para pekerjanya.

BACA JUGA: Mitsubishi Pajero Edisi Terakhir Kini Tersisa 800 Unit

"Pembatasan jam kerja akan bermanfaat bagi pemberi kerja karena hal itu telah terbukti meningkatkan produktivitas. Ini benar-benar pilihan cerdas untuk tidak menambah jam kerja panjang dalam krisis ekonomi," kata Pega.
halaman ke-2
preload video
KOMENTAR ANDA