ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia

Minggu, 14 Juli 2019 - 11:14 WIB
ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia
ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia
A A A
Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) melakukan kerjasama rancang bangun infrastruktur maritime dan teknologi beton apung, untuk dermaga dan breakwater (pemecah gelombang).

Kerjasama dilakukan dengan PT Rekabhumi Segarayasa Bestara (RSB) dan PT Karya Prima Anugerah Mandiri (KPAM). Kerjasama ini digunakan untuk menunjang industri dan kelautan yang berwawasan lingkungan di Indonesia sebagai negara maritime.

Dermaga merupakan tempat persinggahan kapal yang akan melakukan bongkar muat barang dan naik turunnya penumpang dari dan ke atas kapal. Dermaga juga sebagai tempat untuk mengisi bahan bakar, air bersih, membersihkan kapal, bahkan mengatur saluran air kotor yang akan di proses lebih lanjut.

Setiap pelabuhan pasti memiliki dermaga dengan ukuran yang telah disesuaikan dengan kebutuhan. Banyaknya kapal yang sandar akan mempengaruhi kualitas pembuatan dermaga agar layak digunakan.

Di Indonesia, sebagian besar dermaga dibuat dengan struktur bangunan paten dan menghabiskan biaya besar. Sedangkan di negara maju, mereka membuat dermaga apung yang dapat dipindah sesuai kebutuhan dengan biaya yang lebih murah.

Ketertinggalan teknologi yang dimiliki Indonesia saat ini memacu ITS untuk melakukan riset guna mendapatkan inovasi terbaru. Konstruksi beton apung menjadi tujuan pencapaian riset ini agar dapat diaplikasikan untuk pemenuhan infrastruktur maritim.

“Kita tahu bahwa kapal itu dari baja dan itu bisa mengapung, jadi kita bikin beton apung ini berongga agar bisa mengapung, dengan berat jenisnya kurang dari satu (lebih rendah dari air),” kata Haryo Dwito Armono ST MEng PhD, peneliti dan dosen dari Departemen Teknik Kelautan ITS, saat dihubungi oleh tim Koran Sindo.

Sebagai institusi pendidikan, ITS memiliki keterbatasan sehingga memerlukan kerjasama dengan pihak lain untuk mengetahui fakta di lapangan, terutama dengan badan usaha.

ITS melakukan kerja sama dengan PT Rekabhumi Segarayasa Bestara (RSB) dan PT Karya Prima Anugerah Mandiri (KPAM) untuk mengembangkan teknologi beton apung. Kontruksi beton belum banyak diaplikasikan karena berat jenis beton yang lebih besar dari air laut dan memiliki risiko retak yang tinggi.

Padahal, beton lebih tahan korosi dibandingkan dengan material baja. “Beton itu lebih tahan lama dibandingkan baja, karena baja mudah korosi jika kena air laut dan beton bisa bertahan sekitar 30 tahun” tambahnya.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1254 seconds (11.210#12.26)