Penyebaran COVID-19 di Keluarga Lebih Mengkhawatirkan dari yang Kita Duga

loading...
Penyebaran COVID-19 di Keluarga Lebih Mengkhawatirkan dari yang Kita Duga
Penyebaran COVID-19 di keluarga lebih mengkhawatirkan dari yang kita duga selama ini. Foto/Live Science/Shutterstock
WASHINGTON - COVID-19 menyebar di rumah tangga AS lebih sering daripada yang diperkirakan sebelumnya, menurut sebuah studi baru . (Baca juga: Jokowi: Pandemi Covid-19 Bukan Penghalang untuk Berkreasi )

Penelitian yang diterbitkan Jumat (30/20/2020) di jurnal Morbidity and Mortality Weekly Report ini melibatkan 191 orang di Tennessee dan Wisconsin. Mereka tinggal bersama seseorang yang baru-baru ini didiagnosis dengan COVID-19.

Dari jumlah tersebut, 102 orang menjadi terinfeksi dalam tujuh hari setelah terdaftar dalam penelitian, dengan "tingkat infeksi sekunder" sebesar 53%. Tingkat infeksi sekunder adalah persentase orang terpapar yang tertular COVID-19 dari kasus pertama.

Sekitar 75% dari infeksi sekunder ini terjadi dalam waktu lima hari sejak ART pertama jatuh sakit. "Kami mengamati bahwa, setelah seorang anggota rumah tangga pertama jatuh sakit, beberapa infeksi dengan cepat terdeteksi di dalam rumah," kata pemimpin penulis studi, Dr Carlos Grijalva, seorang Profesor Kebijakan Kesehatan di Vanderbilt University Medical Center di Nashville, AS, dalam sebuah pernyataan.



Studi lain yang mengamati penularan COVID-19 di rumah tangga -sebagian besar dilakukan di Eropa dan Asia- menemukan tingkat infeksi sekunder sebesar 30% atau lebih rendah. Tetapi studi baru, yang dilakukan dari April hingga September, adalah salah satu yang pertama melihat penularan COVID-19 di rumah tangga AS secara sistematis, dengan peserta menjalani tes harian untuk COVID-19.

Sebagian dari alasan tingkat infeksi sekunder yang lebih tinggi dalam penelitian baru, dibandingkan dengan laporan sebelumnya, mungkin karena metode penelitian yang ketat dan pengujian lanjutan dari kontak rumah tangga, kata para penulis. Selain itu, penelitian di negara lain mungkin memiliki tingkat infeksi sekunder yang lebih rendah. Alasannya, orang-orang di negara tersebut lebih cepat memakai masker di dalam rumah mereka sendiri ketika anggota rumah tangga lain sedang sakit.

Untuk diketahui, penggunaan masker saat sakit tidak secara tradisional menjadi bagian dari budaya Amerika. Sedangkan di beberapa negara lain ini mulai membudaya. (Baca juga: Tes Baterai, iPhone 12 Pro adalah Kabar Buruk Bagi Gamers )



Studi tersebut juga menemukan bahwa "penularan substansial" terjadi terlepas dari apakah kasus rumah tangga pertama (dikenal sebagai kasus indeks) adalah anak-anak atau orang dewasa.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR ANDA
Top