Badan Antariksa Eropa Buka Kesempatan Bagi Disabilitas Jadi Astronaut

Selasa, 16 Februari 2021 - 22:25 WIB
loading...
Badan Antariksa Eropa Buka Kesempatan Bagi Disabilitas Jadi Astronaut
Badan Antariksa Eropa mengatakan ingin membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas sebagai bagian dari astronot baru mereka. Foto/dok
JAKARTA - Badan Antariksa Eropa (ESA) ingin membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas sebagai bagian dari astronot baru mereka. ESA akan membuka perekrutan pada bulan Maret untuk mengisi empat hingga enam lowongan di korps astro-nya.

Untuk mewujudkan rencana ini, ESA akan meminta Komite Paralimpiade Internasional untuk memberi masukan kepada mereka. "Secara eksplisit, astronaut ini akan melakukan misi luar angkasa yang berarti. Jadi, mereka perlu melakukan sains; mereka perlu berpartisipasi dalam semua operasi normal Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS)," kata Dr David Parker, direktur program robotika dan penerbangan luar angkasa manusia, seperti dikutip BBC. (Baca: Penjelajahan Antariksa Terkenal yang Dicatat dengan Tinta Emas)

Parker mengatakan, ESA harus bisa membuktikan kepada orang-orang yang mendanai proyek mereka, bahwa proyek ini berguna untuk semua lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Misalnya, individu yang memiliki pertumbuhan tidak normal, mereka disarankan untuk ikut mendaftar.

Pada tahap ini, individu yang terpilih akan menjadi bagian dari proyek kelayakan untuk memahami persyaratan, seperti keselamatan dan dukungan teknis. Tapi tujuan yang jelas adalah untuk membuat "parastronaut" menjadi kenyataan di masa depan.

Saat ini ESA sedang menuju keberagaman yang besar. Dalam hal gender misalnya, ESA sangat tertinggal. Hanya satu dari astronotnya yang sekarang adalah perempuan (Samantha Cristoforetti). demikian pula hanya satu dari direktur seniornya adalah seorang perempuan (Elodie Viau di telekomunikasi). (Baca juga: Ilmuwan Menemukan 'Dunia Sponge Bob' Jauh di Bawah Es Antartika)



Sedangkan di kursi kepemimpinan dalam misi ruang angkasa robotik, seperti ilmuwan proyek dan manajer proyek sebagian besar masih laki-laki. Hanya 16% dari pelamar astronot ESA terakhir pada tahun 2008 adalah perempuan. Agensi ingin melihat peningkatan yang dramatis kali ini. Aplikasi perekrutan diterima dari 31 Maret hingga 28 Mei.

Untuk memenuhi syarat, kandidat harus memiliki gelar master (atau lebih tinggi) dalam Ilmu Pengetahuan Alam, Kedokteran, Teknik, Matematika atau Ilmu Komputer, serta memenuhi syarat sebagai pilot uji eksperimental.

"Mereka harus fasih berbahasa Inggris dengan pengetahuan yang baik tentang bahasa kedua. Tidak masalah apa bahasa kedua itu, tetapi harus bahasa kedua," kata Lucy van der Tas, kepala akuisisi bakat ESA.

Kemampuan berbicara bahasa Rusia - bahasa lain yang digunakan di stasiun luar angkasa - akan menjadi bagian dari program pelatihan. Proses rekrutmen harus melihat setidaknya empat orang langsung masuk ke korps astronot Esa, yang berbasis di Cologne, Jerman. (Baca juga: Astronok Mencari Polusi di Tata Surya Untuk memburu Keberadaan Alien)

Selain merekrut penyandang disabilitas, ESA juga akan merekrut 20 calon astronaut baru untuk cadangan. Mereka akan dikontrak untuk setiap saat bersedia dipanggil jika ada astronaut yang pensiun atau karena masing-masing negara anggota ESA ingin menjalankan misi nasional ke ISS.



Kandidat penyandang disabilitas yang berhasil juga akan masuk cadangan. ESA kemudian akan bekerja dengan mitranya di ISS untuk menemukan cara terbaik menerbangkan parastronaut.

Proses seleksi astronot terakhir, yakni Thomas Pesquet (Warga Negara Prancis), Samantha Cristoforetti dan Luca Parmitano (Italia), Alexander Gerst (Jerman), Andreas Mogensen (Denmark), dan Tim Peake (Inggris) bergabung dengan Esa pada tahun 2009. Rekrutan terakhir, Mathias Maurer dari Jerman bergabung pada tahun 2015. (Baca juga: Keren, NASA Membuat Base Camp di Bulan untuk Para Astronout)

Tim Peake yang terpilih sebagai astroanut ESA awalnya tidak percaya. Karena saat itu Inggris tidak ikut membantu mendanai program penerbangan luar angkasa manusia Esa. Tetapi badan tersebut menekankan bahwa aplikasi diterima dari semua negara anggotanya, terlepas dari keputusan pendanaan nasional.

Tentang panggilan baru, Tim Peake mengatakan kepada BBC News: "Kami terlibat dalam program Artemis, yang akan mengirim manusia kembali ke permukaan Bulan, dan itu adalah pintu gerbang ke Mars. Jadi ini bisa merekrut yang pertama. Orang Eropa yang akan menginjakkan kaki di Mars," katanya.
(ysw)
preload video
KOMENTAR ANDA