Kenapa Gurun Bisa Berubah Sangat Dingin di Malam Hari, Ini Penjelasannya

Jum'at, 26 Februari 2021 - 15:32 WIB
loading...
Kenapa Gurun Bisa Berubah...
Suhu di gurun Sahara pada siang hari rata-rata mencapai di atas 38 derajat celcius dan akan berubah drastis menjadi minus 4 derajat celcius pada malam hari. Foto/dok
A A A
CALIFORNIA - NASA mengungkapkan rata-rata suhu di gurun Sahara pada siang hari rata-rata mencapai di atas 38 derajat celcius dan akan berubah drastis menjadi minus 4 derajat celcius pada malam hari.

Jadi, mengapa perubahan suhu yang dramatis ini terjadi di gurun gersang seperti Sahara? Dan bagaimana hewan dan tumbuhan asli menghadapi perubahan cuaca ekstrem seperti itu? (Baca: Jarang Terjadi, Gurun Kembali Menyelimuti Gurun Sahara yang Panas)

Menurut laporan tahun 2008 dari Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California, alasan mengapa gurun yang gersang yang sangat panas di siang hari menjadi sangat dingin pada malam hari adalah kombinasi dari dua faktor utama, yaitu pasir dan kelembaban. Ketika panas dan cahaya matahari menghantam gurun pasir, butiran pasir di lapisan atas gurun menyerap dan juga melepaskan panas kembali ke udara.

Pada siang hari, radiasi pasir dari energi matahari memanaskan udara dan menyebabkan suhu melonjak. Namun, pada malam hari sebagian besar panas di pasir dengan cepat menyebar ke udara dan tidak ada sinar matahari untuk memanaskannya kembali, membuat pasir dan sekitarnya menjadi lebih dingin dari sebelumnya.

Alasan utama terjadinya perubahan suhu yang drastis ini adalah karena udara gurun sangat kering. Di gurun kering seperti Sahara dan Gurun Atacama di Chili, kelembapan praktis nol, dan tidak seperti pasir, air memiliki kapasitas besar untuk menyimpan panas. (Baca juga: Waspada Cuaca Ekstrem, Ini Tips Menghindari Petir Saat Hujan)

Meskipun terjadi perubahan suhu yang cepat, hewan gurun dapat beradaptasi dengan baik untuk perubahan suhu gurun yang ekstrim. "Perubahan suhu ekstrem ini cenderung menjadi masalah yang relatif kecil bagi mereka," kata Dale DeNardo, seorang ahli fisiologi lingkungan di Arizona State University yang mengkhususkan diri pada hewan gurun seperti dikutip Live Science .

Bagi hewan gurun, lanjutnya, tantangan utama yang lebih besar adalah mendapatkan cukup makanan dan air untuk bertahan hidup. Reptil, kelompok hewan yang paling melimpah dan beragam di gurun , beradaptasi dengan baik terhadap variasi suhu yang ekstrim karena mereka berdarah dingin, atau ektoterm, yang berarti mereka tidak perlu menginvestasikan energi untuk menjaga suhu tubuh yang konstan. (Baca juga: Hayley Arceneaux, Penyintas Kanker Pertama yang Akan ke Luar Angkasa)

Reptil juga memanfaat ukurannya yang kecil untuk menemukan tempat berteduh di siang hari atau bebatuan yang lebih hangat di malam hari. "Ada banyak tempat berbeda untuk menjadi lebih hangat atau lebih sejuk, terutama bagi reptil bertubuh kecil," kata DeNardo kepada Live Science.

Sebaliknya, unta bertahan hidup dengan mempertahankan suhu tubuh yang konstan baik dalam kondisi panas maupun dingin. "Mereka melakukan ini dengan memanfaatkan lemak dan bulu tebal, yang mencegah mereka mendapatkan terlalu banyak panas di siang hari dan kehilangan terlalu banyak panas di malam hari, kata DeNardo.

Sedangkan burung gurun menggunakan pendinginan evaporatif - di mana mereka menggunakan air untuk memindahkan panas dari tubuh mereka, seperti bagaimana manusia berkeringat. Kemampuan mereka untuk terbang jarak jauh di antara sumber air membuat mereka tidak terlalu khawatir dehidrasi seperti hewan gurun lainnya. (Baca juga: Dibeli Secara Obral, Mangkuk China Ini Ternyata Barang Antik yang Sangat Langka)

Namun hingga kini, para peneliti masih mencari tahu bagaimana perubahan iklim dapat mempengaruhi tempat-tempat kering dan organisme. "Kami pasti akan melihat perubahan. Untuk sebagian besar gurun, kami memperkirakan kenaikan suhu rata-rata 1,7 sampai 2,2 derajat celcius, pada malam hari," kata DeNardo.
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gempa Myanmar Hancurkan...
Gempa Myanmar Hancurkan Kota Purba di Mandalay
Racun di Danau Laguna...
Racun di Danau Laguna Verde Diklaim seperti Air di Mars
Lautan Pertama di Bumi...
Lautan Pertama di Bumi yang Tidak Berwarna Biru Ditemukan
Batu-batu di Bawah Samudra...
Batu-batu di Bawah Samudra Pasifik Ungkap Awal Mula Bumi Tercipta
Cuaca Kering Picu Kebakaran...
Cuaca Kering Picu Kebakaran Hutan Besar di Korea Selatan
Ilmuwan Temukan Gumpalan...
Ilmuwan Temukan Gumpalan Air Raksasa yang Hilang di Tengah Atlantik
Cincin Saturnus Akan...
Cincin Saturnus Akan Menghilang Akhir Pekan Ini, Berikut Penjelasannya
Subuh ke Magrib hanya...
Subuh ke Magrib hanya 1 Jam, Puasa di Murmansk Cuma 60 Menit
Begini Kondisi Bumi...
Begini Kondisi Bumi saat Es Antartika Seluruhnya Mencair
Rekomendasi
Pemimpin ASEAN Bersatu...
Pemimpin ASEAN Bersatu Respons Tarif Impor Terbaru AS
Hasil Fulham vs Liverpool:...
Hasil Fulham vs Liverpool: Comeback Dramatis, Cottagers Bungkam The Reds 3-2
Malam Puncak Arus Balik,...
Malam Puncak Arus Balik, Pantura Cirebon Macet Parah
Berita Terkini
Raksasa Teknologi Terguncang:...
Raksasa Teknologi Terguncang: Apple Kehilangan USD300 Miliar Akibat Tarif Trump
1 hari yang lalu
Perbandingan Nintendo...
Perbandingan Nintendo Switch 2 dan Nintendo Switch: Harga, Spesifikasi, Desain, dan Fitur
1 hari yang lalu
Inilah Rusa Kutub Belang...
Inilah Rusa Kutub Belang Langka Norwegia yang Menghebohkan Dunia
1 hari yang lalu
Fosil Hewan Tertua di...
Fosil Hewan Tertua di Dunia Dickinsonia Ini Berumur 558 Juta Tahun!
1 hari yang lalu
Daftar Terlengkap Game...
Daftar Terlengkap Game Nintendo Switch 2 2025: Tanggal Rilis, Harga, dan Fitur
1 hari yang lalu
Alasan Jangan FOMO Pre-Order...
Alasan Jangan FOMO Pre-Order Nintendo Switch 2 Sekarang!
1 hari yang lalu
Infografis
3 Kebiasaan di Pagi...
3 Kebiasaan di Pagi Hari yang Bisa Menurunkan Berat Badan
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved