Jadi Ikon Budaya Barat, Kelinci Bertanduk Rusa Ternyata Ada di Dunia Nyata

Minggu, 05 Desember 2021 - 18:02 WIB
loading...
Jadi Ikon Budaya Barat, Kelinci Bertanduk Rusa Ternyata Ada di Dunia Nyata
Jackalope, binatang dengan tubuh kelinci dengan tanduk rusa merupakan ikon budaya Amerika Barat. Foto/dok
JAKARTA - Jackalope adalah binatang dengan tubuh kelinci dengan tanduk rusa merupakan ikon budaya Amerika Barat. Namun mengenai apakah kelinci bertanduk rusa hanya hewan mitos? Ternyata di dunia benar-benar ada.

Michael Branch, seorang profesor sastra dan lingkungan di University of Nevada mengatakan, meskipun tidak ada hewan hibrida seperti itu namun legenda itu memiliki unsur kebenaran.

"Ini adalah makhluk mitologis tapi itu memang memiliki hubungan nyata dengan kelinci bertanduk di alam yang terserang virus papiloma," katanya kepada Live Science, Minggu (5/12/2021).

Kelinci tidak menumbuhkan tanduk secara alami tapi virus papiloma kelinci bisa membuat mereka melakukannya. Papillomavirus umum di banyak spesies, dan setiap jenis biasanya menginfeksi anggota spesies inang tertentu, contoh utama adalah human papillomavirus atau HPV, kata Branch.



BACA: Ikan Penghisap Darah dengan Mulut Monster Muncul Kembali di Australia

Ketika virus papiloma kelinci menginfeksi kelinci, dapat menyebabkan tumbuhnya tumor jinak di wajah atau kepalanya yang terkadang menyerupai tanduk. Kadang-kadang, tumor terbuat dari keratin, protein yang sama yang membentuk kuku dan rambut.

Menurut Branch, tumor bisa menjadi ganas pada beberapa kelinci. Namun, pertumbuhan ini tidak selalu terlihat seperti tanduk. Mereka sering hitam dan asimetris, dan hampir tidak megah seperti tanduk jackalope.

"Ini cukup aneh, tergantung seberapa parah penyakitnya pada kelinci, itu bisa terlihat sangat mengerikan," ujar Branch.

Pada tahun 1933, seorang ahli virologi Amerika bernama Richard Shope menemukan bahwa papillomavirus kelinci, tak lama kemudian dinamai Shope papillomavirus, menyebabkan kelinci yang terinfeksi menumbuhkan ciri-ciri yang menyerupai tanduk, menurut sebuah studi tahun 2015 di jurnal PLOS One.
halaman ke-1
KOMENTAR ANDA