Indonesia Disebut Negara Paling Bertanggung Jawab Atas Kerusakan Hutan

Kamis, 15 September 2022 - 09:31 WIB
loading...
Indonesia Disebut Negara Paling Bertanggung Jawab Atas Kerusakan Hutan
Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam Journal Proceedings of the National Academy of Sciences, empat negara yang kaya akan sumber daya hutan tersebut bertanggung jawab atas hampir 80 persen kerusakan hutan tropis akibat operasi penambangan dari tahun 2
A A A
JAKARTA - Indonesia termasuk di antara empat negara yang disinyalir menjadi penyebab banyaknya kawasan hutan yang dirusak untuk memberi ruang bagi kegiatan pertambangan dan pembangunan infrastruktur.

Seperti dilansir dari Reuters, Kamis (15/9/2022), tiga negara lainnya adalah Brazil, Ghana dan Suriname.

BACA JUGA - Tangkalaluk Ular Besar Penunggu Hutan Kalimantan Usik Anthrozoologi Dunia

Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam Journal Proceedings of the National Academy of Sciences, empat negara yang kaya akan sumber daya hutan tersebut bertanggung jawab atas hampir 80 persen kerusakan hutan tropis akibat operasi penambangan dari tahun 2000 hingga 2019.

Selain itu, setidaknya 70 persen kerusakan hutan disebabkan oleh kegiatan pertanian.

Indonesia menjadi penyumbang terbesar ketika hampir sebagian besar kawasan hutannya dirusak untuk pertambangan batu bara guna memenuhi permintaan bahan bakar dari China dan India.

Menurut rekan penulis studi, Anthony Bebbington dari Clark University di Massachusetts, transisi energi membutuhkan sejumlah besar mineral seperti tembaga, lithium, dan kobalt.

Untuk itu, jelasnya, berbagai pihak perlu merencanakan pendekatan yang lebih efektif untuk mengurangi dampak pertambangan terhadap perusakan hutan.

"Secara acak, sebagian besar tambang di seluruh dunia mengekstraksi lebih dari dua kali jumlah bahan baku daripada yang mereka lakukan pada tahun 2000.

“Secara keseluruhan, ada 26 negara yang bertanggung jawab atas perusakan hutan tropis sejak tahun 2000 dengan empat negara yang paling merasakan dampaknya,” ujarnya.

Dalam studi tersebut, kelompok peneliti memeriksa citra satelit global dan data perusakan hutan bersama dengan lokasi penambangan selama dua dekade terakhir.
(wbs)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1518 seconds (10.55#12.26)