22 Ilmuwan Beri Penjelasan Paling Masuk Akal COVID-19 Bukan Buatan Manusia

Senin, 19 Juli 2021 - 06:04 WIB
loading...
22 Ilmuwan Beri Penjelasan Paling Masuk Akal COVID-19 Bukan Buatan Manusia
Ilustrasi labotarium di Wuhan China. FOTO/ IST
BEIJING - Sebanyak 21 ilmuwan China dan seorang ahli Inggris yang bekerja di China telah berhasil membuktikan melalui penggunaan teori evolusi klasik bahwa virus COVID-19 bukanlah produk buatan manusia melainkan berasal dari lingkungan alam.

Masalah ini terkandung dalam artikel "Asal usul SARS-CoV-2-Argumen pembuat jam buta" yang diterbitkan dalam versi bahasa Inggris dari majalah akademik "SCIENCE CHINA: Life Sciences" yang disponsori bersama oleh Chinese Academy of Sciences dan the Chinese Academy of Sciences. Komisi Dana Ilmu Pengetahuan Alam Nasional. BACA JUGA - Benarkan Karutan Depok Dibekuk karena Konsumsi Sabu, Ditjen PAS: Sudah Dinon-Aktifkan

Penulis utama artikel tersebut, Prof. Wu Zhongyi dari Institut Ilmu Kehidupan Universitas Sun Yat-sen, mencatat bahwa ada pandangan yang diterima secara luas, bahwa evolusi spesies bukanlah tujuan khusus.

Karena suatu spesies hanya mampu beradaptasi dengan alam secara alami maka tidak mungkin “diproduksi”. Sebaliknya ia perlu beradaptasi secara bertahap untuk hidup di alam untuk jangka waktu yang lama, dan sering mengalami perubahan acak.

Prof. Wu mengatakan bahwa COVID-19 sebagai virus “sempurna” pasti merupakan hasil evolusi alam karena sehebat apa pun seorang ilmuwan belum tentu mampu “menciptakan” virus yang dapat beradaptasi dengan manusia dalam kondisi sempurna.

Misalnya, operator telepon seluler paling bergengsi dan berpengalaman tidak akan mampu menghasilkan desain produk paling populer di dunia pada tahap awal.



Faktanya, produk “sempurna” hanya dapat muncul setelah melalui pengujian pasar dan penggunaan berulang.

Beberapa hasil penelitian secara tidak langsung telah membuktikan kebenaran pandangan tersebut. Sebenarnya tikus tidak terinfeksi COVID-19, namun para ilmuwan mengambil langkah untuk menemukan varian yang dapat menginfeksi tikus.

Namun, varian yang dipilih manusia ini tidak dapat memicu transmisi massal pada sekelompok tikus.
(wbs)
preload video
KOMENTAR ANDA