Ada Reaksi Alergi Parah, CDC: Vaksin COVID-19 Pfizer Aman dan Manjur

loading...
Ada Reaksi Alergi Parah, CDC: Vaksin COVID-19 Pfizer Aman dan Manjur
CDC sebut vaksin COVID-19 Pfizer sebagai vaksin yang aman dan efektif untuk memberantas virus Corona baru. Foto/Ist
WASHINGTON - Dari 1,9 juta dosis pertama vaksin COVID-19 Pfizer yang diberikan di Amerika Serikat , ada 21 kasus reaksi alergi parah yang dilaporkan terhadap vaksin tersebut. Temuan ini diungkap Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, pada 6 Januari lalu. (Baca juga: Capai Kesepakatan Baru, UE Kuasai Separuh Total Produksi Vaksin Pfizer )

"Tingkat anafilaksis yang terlihat sejauh ini -11,1 kasus per 1 juta dosis vaksin- lebih tinggi daripada vaksin flu, yakni 1,3 kasus per 1 juta dosis," kata Nancy Messonnier, Direktur Pusat Nasional untuk Imunisasi dan Penyakit Pernafasan CDC. Namun, lanjut dia, reaksi terhadap vaksin COVID-19 masih sangat jarang.

“Ini adalah vaksin yang aman dan efektif. Kami memiliki data yang bagus untuk menunjukkan itu. Sistem pengawasan negara untuk efek samping vaksin sangat kuat. Satu-satunya hal yang kami lihat adalah reaksi alergi yang parah ini," kata Messonnier.

Namun, situs yang mengelola vaksin COVID-19 harus dapat mengenali tanda-tanda anafilaksis -yang, jika terjadi, kemungkinan besar akan terjadi segera setelah vaksinasi- dan bersiap untuk mengobatinya, kata pejabat CDC. Lalu orang yang memiliki riwayat anafilaksis akibat sebab apa pun harus diobservasi selama 30 menit setelah menerima vaksin COVID-19.



Anafilaksis, yang dapat mengancam jiwa, membutuhkan pengobatan darurat dengan epinefrin. Inggris Raya, yang mulai mengimunisasi populasinya terhadap COVID-19 dengan vaksin Pfizer pada 8 Desember 2020 adalah negara pertama yang melaporkan kasus reaksi alergi parah setelah vaksinasi.

CDC melaporkan 21 kasus alergi parah terjadi di Amerika Serikat, yang mencakup vaksinasi yang diberikan dari 14 hingga 23 Desember, dalam penelitian Morbiditas dan Kematian Mingguan yang diterbitkan secara online 6 Januari. Vaksinasi pertama tersebut hanya dilakukan dengan vaksin Pfizer. Pejabat itu belum tahu apa yang menyebabkan reaksi alergi setelah vaksinasi.

Tidak ada kematian akibat anafilaksis yang dilaporkan dalam penelitian ini. Sembilan belas dari 21 orang dirawat dengan epinefrin dan empat dirawat di rumah sakit. Tujuh orang dalam laporan tersebut pernah mengalami anafilaksis di masa lalu. Pejabat CDC merekomendasikan bahwa orang dengan riwayat anafilaksis memperingatkan orang yang memberikan suntikan sebelum mendapatkannya.



CDC terus memantau reaksi ini. Sejak data laporan dianalisis, jumlah total reaksi yang dilaporkan di Amerika Serikat telah meningkat sedikitnya menjadi 29 kasus, kata badan tersebut pada konferensi pers. Beberapa dari kasus baru tersebut terkait dengan vaksinasi dengan vaksin Moderna COVID-19. (Baca juga: Pelanggaran Berat Protokol Kesehatan, Waterboom Lippo Cikarang Disegel )
(iqb)
preload video
KOMENTAR ANDA
Top