Ini Gawat, Status Gunung Everest Sebagai yang Tertinggi di Dunia Diragukan

Minggu, 26 Desember 2021 - 21:43 WIB
loading...
Ini Gawat, Status Gunung Everest Sebagai yang Tertinggi di Dunia Diragukan
Gunung Everest tercatat mempunyai ketinggian 29.031,69 kaki atau 8.848,86 meter di atas permukaan laut (dpl) atau hampir 5,5 mil (8,8 kilometer). Foto/Ist
A A A
GUNUNG Everes t bak permata di mahkota pegunungan Himalaya, Nepal, sekaligus dikenal sebagai gunung tertinggi di dunia . Pengukuran terkini yang dilakukan para ilmuwan pada November 2021, Gunung Everest tetap yang tertinggi di dunia.

Gunung Everest tercatat mempunyai ketinggian 29.031,69 kaki atau 8.848,86 meter di atas permukaan laut (dpl) atau hampir 5,5 mil (8,8 kilometer). Jelas ini tak diragukan lagi, Gunung everest yang dikenal sebagai Chomolungma atau berarti "Ibu Dewi Dunia" dalam bahasa Tibet, masih yang tertinggi di dunia.

Namun, ada yang meragukan dengan mempertanyakan, mengapa menggunakan batas "di atas permukaan laut" saat menentukan puncak gunung tertinggi di dunia? Lalu, bagaimana jika pengukuran hanya dilakukan dari dasar gunung sampai puncaknya, tanpa dibatasi di atas permukaan laut. (Baca juga; COVID-19 Telah Mencapai Gunung Everest )

Apakah Gunung Everest masih menjadi yang tertinggi, jawabannya adalah tidak. Jika pengukuran dilakukan dari dasar sampai puncak, maka status gunung tertinggi diberikan kepada Gunung Mauna Kea. Gunung berapi tidak aktif di Hawaii ini tinggiya adalah 13.802 kaki (4.205 meter) di atas permukaan laut atau kurang dari setengah ketinggian Gunung Everest.
Ini Gawat, Status Gunung Everest Sebagai yang Tertinggi di Dunia Diragukan

Namun, sebagian besar bagian Gunung Mauna Kea tersembunyi di bawah permukaan laut. Ketika diukur dari dasar ke puncak gunung, menurut Survei Geologi Amerika Serikat, Gunung Mauna Kea mempunyai tinggi 33.497 kaki (10.211 meter).

“Itu semua bergantung pada perspektif yang Anda ambil,” kata Martin Price, profesor dan Direktur Pendiri Pusat Studi Gunung di University of Highlands and Islands, Skotlandia, kepada Live Science yang dikutip SINDOnews, Minggu (26/12/2021).

“Jika tidak ada lautan di planet kita, tidak akan ada perdebatan! Anda bisa membandingkan gunung tertinggi di benda lain di tata surya kita, yang tidak memiliki lautan," terang Price. (Baca juga; Wanita Arab Ini Jadi yang Pertama Berhasil Taklukkan Gunung Everest )

Bukan hanya Gunung Mauna Kea yang menjadi pesaing Gunung Everest sebagai yang tertinggi. Ada satu lagi, yaitu Gunung Chimborazo di Ekuador. Chimborazo bukanlah gunung tertinggi di wilayah Pegunungan Andes, Amerika Selatan. Bahkan tidak termasuk dalam daftar 30 teratas gunung tertinggi.
Ini Gawat, Status Gunung Everest Sebagai yang Tertinggi di Dunia Diragukan

Namun, posisinya yang dekat khatulistiwa menjadikannya berbeda. Gunung Chimborazo memiliki puncak yang berada di titik terjauh dari pusat Bumi. Akibatnya, itu berarti ada perbedaan sekitar 13,29 mil (21,39 km) antara jari-jari kutub planet (3.949,90 mil/6.356,75 km) dan jari-jari khatulistiwa (3.963,19 mil/6.378,14 km).

Perlu dipahami Bumi bukanlah bola yang bulat sempurna, namun sebagai oblate spheroid yang lebih menonjol di sepanjang khatulistiwa. Ini terjadi akibat hasil dari gaya yang diciptakan oleh rotasi bumi. (Baca juga; 3 Bulan Meletus dan Hancurkan 3.000 Bangunan, Gunung Berapi di Spanyol Tenang Kembali )

Menurut Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA, Gunung Chimborazo terletak hanya 1 derajat di selatan khatulistiwa, di mana posisi bumi paling menonjol. Keunikan geografis ini berarti puncak Gunung Chimborazo berjarak 3.967 mil dari inti bumi, membuatnya lebih jauh sekitar 6.798 kaki (2.072 meter) dari pusat Bumi dibandingkan Gunung Everest.
Ini Gawat, Status Gunung Everest Sebagai yang Tertinggi di Dunia Diragukan

“Dalam kasus Gunung Chimborazo akan sulit untuk membuatnya menjadi yang tertinggi. Sebab, untuk mengukur ketinggian dikaitkan dengan geoid Bumi yang didefinisikan secara matematis. Geoid adalah model permukaan laut rata-rata global yang digunakan untuk mengukur ketinggian,” jelas Price.
(wib)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1857 seconds (11.210#12.26)