Polusi Kimia Bisa Membuat Penis Menyusut, Ini Penjelasan Ilmuwan

Sabtu, 27 Maret 2021 - 19:24 WIB
loading...
Polusi Kimia Bisa Membuat Penis Menyusut, Ini Penjelasan Ilmuwan
Foto/dok
JAKARTA - Buruknya pengelolaan dan eksplorasi yang dilakukan terhadap planet Bumi menjadi kerugian yang sangat besar bagi umat manusia. Dalam buku barunya, seorang ilmuwan berpendapat bahwa polusi kimia memiliki efek sangat besar pada perkembangan seksual manusia, dari penis yang menyusut hingga menurunnya kesuburan wanita.

Buku baru itu ditulis oleh Dr Shanna H. Swan, seorang ahli epidemiologi lingkungan dan reproduksi terkemuka di Fakultas Kedokteran Icahn di Gunung Sinai berjudul: Count Down: How Our Modern World Is Threatening Sperm Counts, Altering Male and Female Reproductive Development, and Imperiling the Future of the Human Race. (Baca: Mengejutkan Astronom, ALMA Mendeteksi Putaran Angin di Stratosfer Jupiter)

Seiring dengan menyoroti banyak cara kehidupan abad ke-21 yang merusak kesehatan kita, buku ini secara khusus berfokus pada bagaimana bahan kimia di lingkungan modern sangat mengubah seksualitas dan kesuburan manusia.

Mengutip IFL Science , pada 2017 Dr Swan adalah bagian dari peneliti yang menemukan tingkat sperma di antara pria di beberapa negara Barat telah turun lebih dari 50 persen hanya dalam empat dekade. Ada banyak penjelasan di balik masalah ini, tetapi Swan sangat tertarik pada cara bahan kimia di lingkungan kita memengaruhi kesehatan seksual.

Sebagian besar perhatian terkait dengan ftalat, kelompok bahan kimia produktif yang digunakan dalam ratusan produk konsumen, mulai dari mainan dan kemasan makanan hingga semprotan rambut dan cat. (Baca juga: Spesies Bunglon Baru Ditemukan di Penggunungan Bale Ethiopia)



Phthalates dikenal sebagai senyawa pengganggu endokrin, artinya dapat mengganggu sistem hormon. Melalui gangguan ini, diperkirakan bahwa paparan ftalat, serta pengganggu endokrin lainnya, adalah alasan utama di balik jumlah sperma yang berkurang dan kualitas sperma yang menurun.

Berbicara kepada Intercept, Swan menjelaskan bahwa penelitiannya mengungkapkan bahwa paparan ftalat pada akhir trimester pertama dalam rahim dikaitkan dengan bayi manusia yang lahir dengan jarak anogenital yang lebih pendek.

Dr Swan mengatakan, banyak bukti yang menunjukkan bahwa bahan kimia tersebut terkait dengan sejumlah perubahan dalam aktivitas seksual, dari menyusutnya ukuran penis hingga menurunnya gairah seksual manusia.

Kendati demikian, penis yang menyusut bukanlah perhatian utama. Swan berpendapat bahwa peningkatan paparan bahan kimia ini dapat berdampak pada kesuburan dan perkembangan seksual di seluruh dunia, bahkan berpotensi mengancam masa depan umat manusia. (Baca juga: Jika Tak Segera Ditangani, Gelombang Panas Mematikan Akan Melanda Asia Selatan)

Untuk menghindari nasib ini, dia berpendapat bahwa masyarakat perlu menjauhkan diri dari bahan kimia ini dan segera mulai menghentikan penggunaannya.
(ysw)
preload video
KOMENTAR ANDA