Ambyar, Sempat Dinyatakan Manjur Ternyata Vaksin AstraZeneca Salah Uji Coba

loading...
Ambyar, Sempat Dinyatakan Manjur Ternyata Vaksin AstraZeneca Salah Uji Coba
Kepercayaan para ahli terhadap validitas data COVID-19 yang dilaporkan AstraZeneca terkikis cepat karena kesalahan uji coba para peneliti perusahaan. Foto/Business Insider
WASHINGTON - AstraZeneca merupakan salah satu kandidat vaksin COVID-19 yang dinyatakan efektif menundukan virus mematikan tersebut. Belakangan CEO mengakui vaksin kemungkinan akan menggelar uji ulang vaksin COVID-19 lantaran ada kesalahan dalam uji coba pertama yang bisa memberikan hasil tidak wajar.

Kepercayaan para ahli terhadap validitas data COVID-19 yang dilaporkan AstraZeneca pun terkikis dengan cepat hanya dalam beberapa hari. (Baca juga: Vaksin Moderna Diumumkan 94,5% Efektif Jinakkan Virus Corona )

Perusahaan melaporkan pada hari Senin bahwa vaksin virus Corona efektif hingga 90% berdasarkan hasil awal dari studi terhadap 23.000 sukarelawan di Brasil dan Inggris. Tetapi kemudian diketahui bahwa ada kesalahan selama persidangan awal, yang memicu rentetan pertanyaan.

Pada hari Kamis, CEO perusahaan farmasi, Pascal Soriot, mengakui kekhawatiran tersebut. Dikatakannya, mereka kemungkinan akan melakukan uji coba kedua dari kandidat vaksin dua dosis, ungkap Bloomberg News, Kamis (26/11/2020).



"Sekarang kami telah menemukan apa yang tampak seperti kemanjuran yang lebih baik, kami harus memvalidasi ini, jadi kami perlu melakukan studi tambahan," kata Soriot kepada Bloomberg News.

Kesalahan tersebut, yang berarti sekitar 3.000 peserta mendapat satu setengah dosis vaksin, bukan dua yang dimaksudkan, sebenarnya menghasilkan tingkat kemanjuran yang lebih tinggi daripada mereka yang mendapat jumlah yang ditentukan.

"Untuk memperjelas perbedaan ini, dan memenuhi permintaan komunitas kesehatan masyarakat untuk data lebih banyak, AstraZeneca kemungkinan akan menjalankan 'studi internasional' lagi," kata Soriot.



Tujuannya adalah untuk menguji kekuatan rejimen setengah dosis/dosis penuh yang tidak disengaja ini di antara lebih banyak peserta. "Tetapi yang ini bisa lebih cepat karena kami tahu kemanjurannya tinggi sehingga kami membutuhkan lebih sedikit pasien," klaimnya.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR ANDA
Top